Kota Makkah Pada Masa Jahiliyah

Ibadah umroh haji

 

Kota Makkah Pada Masa Jahiliyah. Orang Arab asal mulanya beragam Islam seperti agama Nabi Ibrahim. Namun ‘Amru bin Luhay Al-Khuza’i merusak agama Nabi Ibrahim ini. Dia datang ke Makkah dengan membawa patung-patung yang ia tancapkan disekitar Ka’bah. Kemudian ia mengajak seluruh orang Arab untuk menyembah dan meminta kepada patung-patung tersebut. Orang-orang Arabpun mematuhinya.

Meski agama orang Arab sudah menyimpang jauh dari ajaran Allah, tapi masih ada yang mengikuti ajaran Nabi Ibrahim. Diantara ajaran itu adalah mengagungkan dan menghormati Baitullah, mengerjakan thawaf, mengerjakan ibadah haji dan umrah, wuquf di Arafah, mabit di Muzdalifah, menyembelih kurban dan bertalbiyah saat memulai ibadah haji atau umrah. Tetapi mereka memasukkan beberapa kata dalam talbiyah yang tidak pernah diajarkan Allah ataupun Rasul kepada mereka. Yaitu:

            “Kecuali sekutu yang dia adalah milikMi, tapi ia tidak memiliki apapun.”

Orang-orang Quraisy memiliki banyak patung di Ka’bah dan sekitarnya. Patung-patung itu berjumlah tiga ratus enam puluh buah, dan patung tertingginya bernama Hubal. Mereka juga memiliki patung lain di atas Shafa dan Marwah. Patung itu bernama Isaf dan Na’ilah. Abdul Muthalib kakek Nabi Muhammad menggali zamzam yang sebelumnya terpendam oleh tanah, kemudian menjadikannya sumber minum bagi seluruh umat manusia.

Kota Makkah Pada Masa Jahiliyah

Pada saat itu, kebiasaan orang-orang Quraisy adalah beribadah kepada patung. Membunuhi anak-anak perempuan, meminum khamr, membuat Bahirah, Saibah, Washilah dan Haam. Juga mengerjakan segala perbuatan tidak benar lainnya seperti meninggalkan wuquf di Arafah. Padahal wuquf ini dilakukan seluruh bangsa Arab, hanya penduduk Makkah-lah yang tidak melakukannya.

Di antara kebid’ahan itu adalah:

  • Mereka juga mengatakan bahwa tidak pantas bagi penduduk Makkah untuk membuat aqith dan meninggalkan minyak samin ketika sedang berihram.
  • Selama ihram, mereka  juga tidak boleh memasuki rumah yang terbuat dari bukku hewan. Juga tidak boleh berteduh kecuali di dalam rumah yang terbuat dari kulit.
  • Mereka juga mengatakan tidak boleh bagi selain penduduk kota haram (Makkah) untuk memakan makanan yang di bawa dari tanah halal (luar Makkah).
  • Mereka (selain penduduk Makkah) juga tidak boleh thawaf di sekitar Ka’bah dengan menggunakan pakaian mereka di awal kedatangannya. Mereka harus mengenakan baju penduduk Makkah. Jika tidak menemukannya maka mereka harus thawaf dengan telanjang.
  • Dan jika ada seseorang selain penduduk Makkah yang berbaik hati dengan memberikan bajunya saat ada orang asing yang tidak menemukan baju penduduk Makkah maka baju itu harus dibuang setelah ia selesai dari thawafnya. Baju itu tidak boleh dimanfaatkan sama sekali dan tak ada seorangpun yang boleh menyentuhnya. Baju itu diberi nama “AL-Luqa” (yang dilemparkan begitu saja).

Kota Makkah Pada Masa Jahiliyah

Kemudian datanglah ajaran islam yang menghapus segala bentuk kebid’ahan itu. Allah berfirman:

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (Arafah) dan mohonlah ampun kepada Alah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199)

Dalam ayat lain Allah berfirman:

“Hai anak Adam, kenakanlah baju kalian yang indah setiap memasuki masjid.” (QS. Al-A’raf: 31)

Setelah itu pada tahun kesembilan Hijriyah Rasulullah mengumumkan kepada khalayak ramai bahwa tahun depan (tahun kesepuluh) diharamkan bagi siapapun musyrik dan telanjang untuk mengerjakan thawaf di sekitar Ka’bah. Orang-orang musyrik Quraisy membangun Ka’bah pada tahun kelima sebelum kenabian  dan Rasulullah ikut dalam pembangunan tersebut. Pembangunan Ka’bah waktu itu bergantung pada pembiayaan yang ada, sehingga mereka tidak bisa memasukkan Hijr Ismail dalam bangunan Ka’bah karena keterbatasan dana halal mereka.

Mereka membuat tinggi pintu Ka’bah agar leluasa membiarkan orang yang mereka kehendaki masuk kedalamnya atau menghalangi orang yang tidak mereka kehendaki untuk masuk.

Mereka juga memberi minuman dan makanan kepada setiap pendatang pada setiap musim haji. Mereka menamakannya dengan As-Siqiyah dan Ar-Rifadah. Mereka juga menyelimuti Ka’bah dan menamakannya Al-Hijabah.

Kota Makkah Pada Masa Jahiliyah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *