Makna Haji Dalam Pandangan Ali Syari’ati 2

Makna Haji Dalam Pandangan Ali Syari’ati

Makna Haji Dalam Pandangan Ali Syari’ati. Semakin jauh kamu menyelam ke dalam lautan ini, semakin jauh pula kamu dari dasarnya; ia tidak punya akhir! Ia bermakna sebanyak yang “kamu mengerti.” Orang yang mengklaim bahwa dia mengetahui segalanya adalah orang yang sesungguhnya tidak mengerti apa-apa!  Ini dikarenakan apa yang bisa dimengerti berada diluar wilayah ilmu pengetahuan biasa, tetapi lebih merupakan milik wilayah emosi atau perasaan yang tidak dapat dipahami sepenuhnya. “Perasaan” dan “kesadaran” tentang kehadiran Tuhan inilah yang mengajarkan para penziarah (haji) tentang ilmu pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih dalam dari apa yang bisa dicapai baik dengan sains maupun teologi.

Ini menumbuhkan “kesadaran yang dalam” pada diri seorang Muslim yang taat yang akan dibutuhkan jika seorang ingin benar-benar terbebas dari batasan- batasan yang membuat manusia menjadi budak. Tetapi penekanan Syari’ati pada supremasi ilmu pengetahuan, kesadaran dan pencerahan sama sekali tidak berarti dia menolak jalan tindakan. Dia menekankan bahwa di mana pun pelajaran-pelajaran ini dipelajari, “orang-orang yang mempelajari pengetahuan ini berjuang untuk mendapatkan kebebasan manusia karena Allah.”

Makna Haji Dalam Pandangan Ali Syari’ati

Jalan hidup spiritual yang ditawarkan Syari’ati meliputi penggunaan semua sumber yang dimiliki seseorang untuk keuntungan semua ciptaan Tuhan, bahkan sumber dari kehidupannya sendiri: Untuk mencapai kemuliaan, Anda harus terlibat secara genuine dalam problem yang dihadapi masyarakat. Ini termasuk melaksanakan kebaikan, kesetiaan dan membatasi diri dari berbagai kesenangan hidup, menderita dalam penahanan dan pembuangan, bertahan dari aniaya dan menghadapi berbagai bahaya.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Setiap agama memiliki jalan kehidupan kebiaraan. Dalam Islam jalan hidup itu adalah jihad. ”Sementara pada tingkat realitas setiap kita adalah seorang khalifah Tuhan, seorang peziarah yang dengan penuh kesadaran memenuhi kepercayaan itu, bertanggung jawab melakukan segala kemungkinan untuk menghentikan kehancuran. Syari’ati memandang haji sebagai saat di mana lebih dari satu juta wakil umat Islam dapat mempelajari tujuan haji, makna kenabian, nilai penting persatuan, dan nasib bangsa-bangsa Muslim, lalu kembali ke kampung halamannya, ke dalam komunitasnya untuk mengajarkan yang lain, menjadi cahaya penerang dalam kegelapan.

Hal ini sungguh memiliki implikasi revolusioner bila dipahami melalui pandangan Syari’ati tentang saling ketergantungan antara agama dan struktur sosial. Tujuan ibadah haji telah tercapai bila si pelakunya telah mampu melaksanakan nilai-nilai ini dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan akan memelihara sang haji sebagaimana Tuhan tidak membiarkan Ibrahim terbakar oleh api. Jika mereka yang berhaji dapat kembali ke negerinya sebagai orang-orang yang telah membina diri mereka di atas keimanan yang mengarah pada tujuan ini, lalu mereka akan kembali ke negeri dan desa mereka seperti “sungai yang mengalir mengairi bumi,” masing-masing membantu menumbuhkan beribu-ribu benih. Inilah tujuan haji; ia bukan sekedar tugas keagamaan, tetapi sebuah tujuan yang dengannya dimana Tuhan memperbarui masyarakat. Inilah yang ditegaskan Syari’ati bahwa “eksistensi manusia tidak ada artinya kecuali jika tujuan hidupnya adalah untuk mendekati Roh Allah!” Ihram, Simbol Kesucian dan Kesetaraan Drama kolosal haji bermula di Miqat Makani, di tempat di mana ritual haji dimulai.

Refleksi Ritual Makna Haji Dalam Pandangan Ali Syari’ati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *